SEOGenic tools AI Visibility

Menjadi SEOGenic di Dunia SEO dan AI Visibility 2026

Pernah gak merasa sudah susah-susah buat artikel tapi tetap saja pengunjung kita turun? Baik itu blog maupun website perusahaan profesional, mungkin mengalaminya. Selain Google yang sering update algoritma, kita juga gak bisa mengesampingkan efek dari keberadaan AI, mulai dari Google AI Overview, Gemini, ChatGPT, Claude, Perplexity dan sebangsanya.

Terus apa dong gunanya bikin konten susah-susah akhirnya hanya disadap oleh AI dan ditampilkan ringkasannya di aplikasi AI tanpa memberikan trafik ke website kita?

AEO GEO SGE, Masa Depan Dunia SEO

Orang sering bilang sejak dulu SEO sudah mati, tapi entah kenapa nama seperti Ilman Akbar dan Joe Handaya tetap berkibar di dunia SEO? Bukankah sekarang jamannya AEO (AI Engine Optimization) GEO (Generative Engine Optimization) dan SGE (Search Generative Experience) lalu kenapa orang-orang SEO masih saja dipake jasanya?

Apakah website kita sudah tidak SEOGenic lagi dengan beragam kemunculan istilah berbasis pencarian AI ini?

Pada dasarnya mau istilah apapun yang kalian gunakan, intinya tidak menafikan bahwa keberadaan AI dan kemampuan generative dari LLMs mengubah cara bermain SEO, SEO tidak lagi sekedar trafik tapi bagaimana kita juga bisa mendulang potensi yang hadir dengan kemunculan AI.

Yang berbeda adalah cara mainnya, sementara untuk kontennya kurang lebih sama namun dengan added value yang memang seharusnya sudah ada dari dulu, hanya saja untuk saat ini lebih dititikberatkan harus ada!

Apa Yang Berubah?

Baik AI maupun Google Guideliness terbaru tetap align satu sama lain, meski mereka punya cara main sesuai algoritma masing-masing tetapi outlinenya kurang lebih masih sama.

Konsepnya Masih EEAT

EEAT (experience,  expertise, authority, dan trustworthy) makin dipake, terutama lebih strict untuk konten yang terkait dengan YMYL (Your Money Your Language) misalnya tentang keuangan, kesehatan, keselamatan sangat memerlukan EEAT yang jauh lebih verifiable dibanding niche travel atau kuliner.

Masalahnya bagaimana kita bisa mengalahkan media besar seperti Tribunnews dkk yang jelas punya duit, modal dan pasukan yang lebih banyak dari kita?

  1. Experience; Pengalamanmu selalu unik, dan pengalaman mengajarkan sesuatu yang tidak dimiliki oleh AI, AI tidak pernah bisa merasakan gimana pengapnya umpel-umpelan menunggu gunungan Grebek di kraton Jogja. Experience kamu akan membantu pembaca dengan data yang lebih akurat dibanding apa kata AI, inget AI masih belajar, kadang dia gak tahu klo harga tiket kereta udah berubah, atau mengambil data yang salah dari artikel orang lain.
  2. Expertise; Jika kamu punya latar belakang sepertiku, kuliah di bidang teknik tapi bahas artikel tentang kuliner Jogja, siapa yang akan percaya? Google belum tentu, apalagi yang baca, tapi kamu bisa menggunakan data authorbox untuk memberi info bahwa kamu adalah pemilik akun instagram @Makankeliling, maka disini reputasimu sebagai culinary expert bisa divalidasi oleh Google dan pembaca, pastikan bahwa kamu menginformasikan tentang sejarah panjangmu di dunia icip-icip makanan.
  3. Authority; Mirip seperti expertise, tetapi authority lebih merujuk pada apakah kamu adalah orang yang memiliki otoritas untuk ngomongin e-wallet? Apakah artikelmu cukup banyak ngomongin e-wallet? Dan kamu cukup sering menggunakan fiturnya, serta membagikan tips mengenai cara penggunaannya lewat kontenmu?
  4. Trustworthy: Ini merujuk pada data dan fakta yang kamu tampilkan di konten kalian, jika menggunakan data pertama, berdasar pengalaman, apa pengalaman itu bisa diverifikasi? Bisa dengan menambahkan foto yang kalian ambil saat jalan-jalan ke obyek wisata yang sedang kalian bicarakan. Atau jika menggunakan data pihak ketiga, pastikan sumber data tersebut jelas. Itulah sebabnya jika kalian perhatikan beberapa website media selalu menggunakan kata … berdasar buku A karangan penulis A, atau menurut kitab X karangan Syekh X, atau dikutip dari UU KUHAP Pasal 34… itu menunjukkan data kalian memiliki sumber resmi, dapat divalidasi. Dan satu lagi yang penting tambahkan disclaimer, jika konten kalian termasuk jenis YMYL, bilang bahwa konten ini adalah informational tidak dimaksudkan sebagai Saran Finansial pastikan minta user buat tetap melakukan Do Your Own Research. Tertulis ya bro, ini penting buat memastikan konten kita tidak menyesatkan, klo akhirnya mereka tersesat ya karena mereka gak melakukan riset lanjutan seperti yang kita sarankan, eh kok gitu ya 😀
BACA JUGA:  Pentingnya Traffic dalam Website Bisnis dan Metode Meningkatkannya

Pertanyaannya, setelah kamu buat konten untuk web perusahaan atau blog pribadi, ask yourself?

  1. Jika kamu adalah pembaca, apakah kamu atau kebutuhan kamu terwakili dalam artikel tersebut?
  2. Apakah artikel itu bisa kamu percaya? bener-bener based on experience, atau menggunakan sumber resmi?
  3. Apakah kamu akan menggunakan artikel tersebut sebagai referensi untuk melakukan sesuatu?

Kalo artikelmu terasa garing, atau hanya sekedar menurut ahli kesehatan, tanpa sebutin dokter siapa, ahli apa kerja dimana? Apa perlu kamu percaya? Klo kamu sebagai pembaca biasa gak percaya, apalagi Google dan mesin AI?

Perusahaan yang Ogah Ngasih Panggung Buat Writernya

Kalian mungkin sering menemukan website perusahaan yang memiliki fitur blog, dengan nama penulis semacam; admin, writter, penulis lepas, admin blog. Dari konsep EEAT, ini akan mengurangi nilai kepercayaan karena baik AI, Google maupun pembaca tidak pernah tahu siapa penulisnya, dan apa latar belakang di baliknya? Atau hanya sekedar tulisan AI Generated dari chatGPT doang? yang bahasanya template …. dalam artikel ini kita akan membahas tentang, bla bla bla, kesimpulan…. garing!

Aku yakin jika kalian membaca artikel sejenis itu, kalian sudah langsung paham itu buatan AI dan tidak bisa seratus persen dipercaya kebenarannya. Karena baik Google maupun penyedia layanan AI pun sering memberikan peringatan “klo berdasarkan AI perlu dicek kembali kebenarannya”

Masa-masa kejar-kejaran keyword memang belum berakhir di dunia SEO, semua masih pengen tetep majang di pejwan Google, tapi inget lho saat ini entity attribution lebih penting daripada keyword, karena entity attribution ini ikut menentukan apakah sebuah konten layak dipercaya atau tidak?

Kalian bisa membaca artikelku tentang authorbox untuk memperkuat EEAT, dan kalian yang jadi Chief level perusahaan gak usah alergi kasih attribute ke penulis kalian. Inget karyawan yang merasa diakui akan lebih bahagia, dan kebahagiaan mereka bisa memberikan impact yang lebih buat perusahaan!

People First, Tapi Engine juga Butuh Skema Technical!

Meski Google selalu bilang fokusin ke people first, dan emang harus! Gak boong bahwa kemampuan teknikal kalian juga akan menentukan apakah website kalian akan tetap SEOGenic dan survive ditengah gempuran kompetitor, website media dan AI tentunya.

People First itu kayak apa sih sebenernya?

Itu sebenernya pertanyaan utamanya! People first itu menjadikan user intent sebagai dasar untuk membuat konten, baik konten web, gambar atau video. User intent akan menentukan konten seperti apa yang diperlukan user di setiap user journeynya. Bayangin kamu lagi butuh hp baru secepatnya karena hp kamu kecemplung di bak mandi.

  1. Cari Information hp harga 1-2 jutaan, kamu belum tau mau cari hp apa, hanya by budget yang kamu punya, open opportunity
  2. Setelah baca daftar HP di harga tersebut kamu akan masuk ke tahap Navigational/Commercial di tahap ini kamu sudah punya rekomendasi merk dan type hp nya, misalnya iPhone 17 atau Samsung S20, disini, kamu akan fokus di spesifikasi, fitur, dan perbandingan harga, termasuk dari review, sapa tahu cuma produk gagal. Serius karena aku pernah dapet produk gagal cuma karena telat baca review HPnya setelah bayarin Poco M3, kampret emang!
  3. Tahap terakhir adalah Transactional dimana kamu akan memilih dimana kamu akan beli barangnya, offline, online di marketplace mana, bayar pake QRIS atau e-wallet atau malah cuma ngandelin Paylater
BACA JUGA:  Dijamin Work! Cara Pasang Google Analytics 4 (GA4) di Wordpress

Cara paling mudah nemuin konten yang user first bisa kalian temukan di PAA, yang juga pernah aku bahas di blog ini gimana cara optimasinya.

Oh ya sekedar update jika kalian menggunakan PAA, inget bahwa konten berdasar PAA itu cukup rich-snippet-able dan sangat cocok buat meningkatkan AI Visibility, cara mudahnya

  1. Gunakan pertanyaan PAA sebagai sub heading H2, jawab langsung pertanyaan tersebut dalam 40 kata pertama setelah sub heading
  2. Gunakan FAQ, jejenis tanya jawab yang bisa kalian taruh dibagian tengah agak kebawah atau paling bawah dari artikel. Jika kalian paham teknis, tambahkan JSON-LD FAQ, yang bisa dibaca oleh AI dan Search Engine, kenawhy, karena FAQ punya schema berbeda dengan artikel.
  3. AI itu kayak orang Indonesia, males baca panjang, pengennya langsung dijawab pertanyaannya, gak bertele-tele harus baca artikel nirmanfaat 3000-5000 kata. Kan kalian beralih nanya-nanyanya ke AI juga karena itu kan? Ya kan?
  4. Klo kalian jualan produk ya gunakan schema Produk jangan tulis sebagai artikel blog biasa, gimana mau tampil di tab shoppingnya Google coba? Test pake Rich Test Result atau Schema Validator deh

Dimana-mana AI, Solusinya Gimana?

AI bukan musuh, buktinya sangat ngebantu banget buat brainstorming ide, bikin outline, nulisin konten sampe buat tanya jawab absurd tentang rumus excel buat bikin report ke atasan. FYI, GOOGLE GAK NGELARANG KONTEN HASIL TULISAN AI!!!! Tapi sama aja kayak kita, Google ogah dikasih konten murni hasil AI.

Saran ak sih jadikan AI buat alat bantu, buat brainstorming, bikin outline, sama nulisin draft konten yang perlu kalian tambahkan added value seperti

  1. Human feelings, pengalaman kalian, yang real ya, klo yang dibuat-buat AI mah juga bisa asal pinter mainin promptnya
  2. Sumber data pihak ketiga wajib jika kamu membuat konten yang tanpa experience sendiri dan hanya berdasar katanya.
  3. Pake llms.txt, ini sejenis sitemap tapi khususon buat makhluk AI, bingung cara bikinnya? Pake Rankmath aja sih klo pake wordpress!
  4. Disclaimer, seperti yang aku bilang tadi biarin user bertanggungjawab sama pilihan dia sendiri, dan membebaskan kita dari tuntutan, ya kan gak seru klo perusahaan dituntut sama user cuma gegara nerapin tulisan ghostwritter freelance dari Projects atau Sribulancer, wagu

Cara Ngeliat Apakah Konten Kita Dikenal AI Gimana?

Itulah yang disebut AI Visibility, apakah konten kita terlihat oleh AI engine, apa ada AI citation atau AI mention ke kita? Ngomongin citation jadi inget sama Trust Flow Citation Flownya Majestic, ah udahlah susah cuiy yang itu gampangan DA PA Moz sama DR UR nya aHrefs.

Ada beberapa brand yang bisa kita pake ngeliat AI Visibility, misalnya Brand Radar yang bisa dibayar mahal via aHrefs, Semrush juga punya, trus Mangools, tapi ada juga sih yang free meski terbatas tapi cukup oke kok kayak yang aku pake, bisa integrasi sama Tag Manager n Google Analytics. Klo penasaran nama toolsnya boleh kasih komentar yak! Tampilannya kurang lebih kayak gini, jadi kita bisa liat ni di niche tersebut, search query dari si AI pas jawab pertanyaan user tuh apa, dan balik lagi ke PAA, klo orang nanya apa berarti kita harus bisa kasih jawaban yang memuaskan

SEOGenic tools gratis lihat AI Visibility Priyo Harjiyono anotherorion

Jadi, apakah kalian cukup siap dengan perubahan SEOGenic di tahun 2026? atau memutuskan gantung pena sebagai blogger? Ya klo kalian cuma blogger, aja lha klo eksekutip perusahaan mosok yo mo tutup website. Yuk diskusi dibuka, boleh sambil ngeledekin yang nulis juga kok.

 

NB: SEOGenic adalah istilah yang aku cetuskan untuk website yang sudah siap menerapkan teknik SEO berdasar teknik yang diijinkan Google Guidelines. Hero Images pinjem punya search engine land

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

(Note, links and most HTML attributes are not allowed in comments)

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Ingin produk/website Anda kami ulas? Silahkan klik tombol dibawah ini