Semut kecil

Seekor semut kecil berwarna merah yang muncul di mejaku membuyarkan lamunanku, kulihat ia mondar mandir mengecek setiap sudut meja berharap menemukan sebutir makanan untuk dibawa pulang pada keluarganya. Rupanya ia tak menyadari tatapanku yang merasa terganggu oleh kehadirannya.

Aku diam memperhatikan tingkah semut itu, lalu dengan iseng kumainkan jariku untuk menghalangi gerakannya, dan ia terkejut kemudian berusaha menghindar. Ah seekor semut, kamu tidak akan bisa berlari dari seorang manusia sepertiku, bahkan kamu berlari seribu langkahpun jangkauan tanganku pasti selalu lebih panjang dari jarak yang kamu tempuh.

Semut itu terus berlari tunggang langgang menghindari keisenganku, tidak berapa lama hampir sampailah ia ke bibir meja, dengan sigap kutancapkan kukuku tepat di sisi badannya agar aku bisa menangkapnya! Happ! Kaki semut itu tertangkap oleh tekanan jariku. Ia meronta dan berusaha melepaskan diri, aku membiarkannya terus meronta untuk beberapa saat.

ant-1920-1080-7521 Semut kecil  wallpaper

Kulihat semut itu meringis kesakitan, tapi ia sadar ia harus secepatnya meninggalkan meja yang penuh mara bahaya ini. Melihatnya terus berusaha akupun melepaskan kakinya. Semut itu berusaha lari seperti tadi, tapi kali ini ia tidak segesit sebelumnya. Jalannya pincang dan sempoyongan, tanganku telah membuat dua kaki kanannya patah, ia menjilati kakinya untuk berusaha meredakan rasa sakit yang kubuat, lalu dengan bersusah payah tertatih2 ia pun meneruskan langkahnya.

BACA JUGA:   main ke Gamping

Lalu semut itu menoleh padaku dan seolah2 aku bisa mendengar perkataannya

” Hai manusia, kita tidak pernah saling mengenal sebelumnya, tidak juga kita sedang bermusuhan, tapi kenapa kamu tega melukaiku? Apa salahku padamu? Bahkan aku tidak mengambil secuilpun rizki yang diberikan Tuhan padamu di meja ini?”

Aku merasa tertampar mendengarnya, ya semut itu memang tidak benar2 berbicara padaku, akupun tak bisa melihat dan mencerna emosi dalam tatapan matanya, tapi aku merasa ia sedang melayangkan nota protes atas perbuatanku padanya.

Kemudian aku mengeluarkan sebungkus coklat kecil dari dalam kantung bajuku, kucongkelkan sedikit dan ku letakkan disisinya sebagai tanda permintaan maafku padanya. Ia menghindar, tapi beberapa jurus kemudian ia mengendus remah coklat yang kuhidangkan, dan segera pergi meninggalkan meja.

Aku terdiam menatap punggungnya hilang ditelan bibir meja, hatiku merasakan penyesalan atas perlakuanku padanya, ya, aku hanya sedang kesal pada seseorang tetapi justru menimpakan kekesalanku pada makhluk lain hanya karena ia lebih lemah dariku.

Tidak beberapa lama, satu tim pasukan semut sudah menaiki mejaku dan mengendus2 coklat di meja, mereka kemudian menggotongnya bersama2 turun dari meja menuju rumahnya, tak kulihat semut pincang ada dalam pasukan itu, mungkin saat ini ia sedang menjalani perawatan di salah satu rumah sakit terbaik di komunitasnya, kuharap ia dapat segera sembuh.

BACA JUGA:   Nrimo Ing Pandum

Hari ini aku menerima pelajaran dari seekor semut merah yang lemah, bahwa kekuatan kita tidak boleh digunakan untuk menyakiti orang dan makhluk lain, hanya karena kita lebih berkuasa dan kuat dibandingkan dengan mereka.

Semut kecil, semut merah kecil, brapa lama waktu tmpuh semut, gambar semut, gambar semut kecil, semut, semutkecil, walpaper semutkecil merah

anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

27 tanggapan untuk “Semut kecil

  • Januari 18, 2013 pada 11:13 am
    Permalink

    pertama berkunjung kesini
    cerita semutnya bagus

    Balas
  • Januari 2, 2013 pada 12:30 am
    Permalink

    jadi inget waktu kecil, mikir serius, klo semut ngomongnya oe-oe dan punya mama papa apa gak ya hahaha…

    Balas
  • Desember 29, 2012 pada 5:44 am
    Permalink

    esih kober ngulaih semut
    minat dadi pawang semut pa
    haha…

    Balas
  • Desember 28, 2012 pada 10:09 pm
    Permalink

    Merhatiin tingkah semut sampe sedetil itu. Emang waktu kakinya patah, bisa nyampe gitu ngejilatnya?

    Balas
  • Desember 28, 2012 pada 9:12 pm
    Permalink

    Kisah hikmah yg bagus, Yo. Bener itu, kita ndak boleh sewenang2, apalagi terhadap yg lemah.

    Balas
    • Desember 29, 2012 pada 3:37 am
      Permalink

      injih mbak sum

      Balas
  • Desember 28, 2012 pada 1:59 pm
    Permalink

    keyeen keyeeen memang prof ini

    Balas
    • Desember 29, 2012 pada 3:38 am
      Permalink

      ehehehe masak si mbak 😀

      Balas
  • Desember 28, 2012 pada 8:43 am
    Permalink

    wew kiasannya apik Yo, bener yah tidak boleh menyakiti yg lemah tp kadang semut ngigit Yo, nek wes ngigit bentol abang trus gatel hehehe

    Balas
    • Desember 28, 2012 pada 9:14 am
      Permalink

      lha nek kuwi kan dia menyakiti kita, misale kek nyamuk nggigit ya tabok baen

      Balas
    • Desember 28, 2012 pada 8:18 am
      Permalink

      nganggo bahasa linggis malah ra metu form e kang

      Balas
  • Desember 28, 2012 pada 8:16 am
    Permalink

    apik mas critane 🙂

    Balas
  • Desember 28, 2012 pada 7:59 am
    Permalink

    Bahkan, menimpakan kekesalan pada seekor semut kecil pun bukan sebuah tindakan terpuji atas sikap kita terhadap sesama

    Balas
  • Desember 28, 2012 pada 7:59 am
    Permalink

    weit diksinya ada.. bedo mas karo tulisan biasane…
    setuju, apik sudut pandang semutnya..

    Balas
    • Desember 28, 2012 pada 8:00 am
      Permalink

      lagi mandan galaw dadi tulisane lempeng iki fi hihihi

      Balas
      • Desember 28, 2012 pada 6:32 pm
        Permalink

        mandan,
        haha,, galawu terus mas, ben apik tulisane 😀

        Balas
  • Desember 28, 2012 pada 7:51 am
    Permalink

    mang, iseng ih…hehe
    Tp tulisannya bagus,,sampe ada sudut pandang semuj segala,,nice.

    Balas
    • Desember 28, 2012 pada 7:54 am
      Permalink

      ia mbak itu iseng yang tidak baik coz bikin semutnya menderita e

      Balas

Berikan tanggapan anda

%d blogger menyukai ini: