Mengapa Kelaparan Balita Masih Menghantui Di Negeri Bahari

Menyambut Hari Pangan Sedunia, Foodbank pf Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Teknologi Pangan Universitas Gajah Mada menggelar sesi webinar dengan tema Cegah Kelaparan di Negeri Bahari; Aksi Nyata di Hari Pangan Sedunia.

Acara yang dibuka oleh Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, drg Ika Dewi Ana, M.Kes, Ph.D ini menghadirkan narasumber dari Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementrian Kelautan dan Perikanan, akademisi, Bee Jay Bakau Resort, serta dari Frisian Flag.

Hari Pangan Sedunia sendiri diperingati setiap tanggal 16 Oktober sejak tahun 1945 yang diprakarsai oleh Badan PBB yang mengurusi bidang pangan, Food and Agriculture Organization (FAO). Hari Pangan ini diperingati oleh organisasi yang memang concern terhadap ketahanan pangan dan kelaparan, tak terkecuali oleh Foodbank of Indonesia.

Dikenal sebagai negara kepulauan, dengan bentang maritim 3.25 juta kilometer persegi berupa lautan dan sumber pangan potensial dari hasil laut, namun masyarakat Indonesia masih memiliki banyak kondisi kelaparan.

Kelaparan Balita di Indonesia

Berdasarkan data Global Hunger Index 2019, Indonesia masih menghadapi masalah kelaparan yang serius, dan anak adalah kelompok rentan dalam rantai distribusi makanan. Hal ini terjadi karena anak bukan merupakan pengambil keputusan pangan yang baik, dan dalam kondisi ini kebutuhan anak seringkali tergeser oleh kebutuhan anggota keluarga lain.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Foodbank of Indonesia, sekitar 28% anak usia balita mengalami kelaparan di pagi hingga siang hari, tingkat kelaparan ini meningkat menjadi 40%-50% di wilayah perkotaan. Senada dengan laporan FOI, KataData mencatat, tingkat stunting di kalangan balita Indonesia mencapai angkat 27,7%. Jika merujuk data dari Kementrian Kesehatan tahun 2018, 17.7% balita di Indonesia mengalami masalah gizi, dimana 3.9% nya mengalami gizi buruk dan sisanya kekurangan gizi.

kekurangan gizi balita

Kelaparan ini terjadi karena orang tua tidak menyiapkan sarapan putra-putrinya sebelum berangkat sekolah. Perut yang kosong ini dapat menimbulkan gangguan pada fokus belajar anak di sekolah. Dua alasan utama adalah ketidakmampuan orang tua menyiapkan sarapan karena faktor ekonomi serta kurangnya pemahaman pentingnya sarapan pada anak.

Sejak terjadi pandemi Covid-19 yang berakibat pada penurunan tingkat ekonomi masyarakat di seluruh dunia, PBB memperkirakan potensi tujuh jta anak di dunia akan mengalami stunting akibat kekurangan gizi selama pandemi.

Di Indonesia sendiri, berdasar Data Kadin masalah pandemi ini telah mengakibatkan 6.4 juta pekerja mengalami PHK dan dirumahkan. Jumlah tersebut tentu menambah jumlah kerentanan pangan pada keluarga-keluarga di Indonesia.

Jika menimbang posisi Indonesia sebagai negeri agraris dan maritim tentunya ini bertolak belakang dengan kondisi kelaparan balita yang dialami di Indonesia. Data dari LIPI bulan Maret  2019 potensi kasar nilai ekonomis dari Laut Indonesia adalah 1772 triliun rupiah. Lalu sebenarnya apa yang salah dari kondisi ini?

Negeri Bahari dengan Konsumsi Ikan Rendah

Menurut Prof Sri Raharjo dari FTP UGM, meski menyandang sebagai negeri bahari namun konsumsi ikan di Indonesia lebih rendah dibanding negara lain,  termasuk dibanding negara-negara di kawasan Asean. Dengan demikian meski negara maritim, namun ikan justru menjadi sumber pangan yang termarjinalkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Ada beberapa hal yang berperan dalam rendahnya tingkat konsumsi ikan di Indonesia.

negeri-bahari-konsumsi-ikan di Indonesia rendah

Pertama dari segi ketersediaan ikan segar, baik dari segi volume maupun outlet penjualannya yang kurang merata. Kedua, beberapa jenis ikan tertentu memiliki harga jual yang relatif mahal, selanjutnya menu ikan belum menjadi bagian dari menu makanan rutin keluarga. Sementara itu ikan yang tersedia dan harganya terjangkau kurang disukai masyarakat.

Di pulau Jawa yang terdiri dari 6 provinsi saja, rerata konsumsi ikan masyarakatnya ada di bawah rerata nasional. Sebagian masyarakat enggan mengkonsumsi ikan karena adanya persepsi indrawi, terutama dari segi aroma bahwa ikan itu baunya anyir, masyarakat juga mengkhawatirkan adanya bahan pengawet yang digunakan untuk mengawetkan ikan selama perjalanan dari laut ke outlet, takut tertusuk duri, serta limbah hasil olahan ikan yang berbau tidak sedap. Oleh karenanya masyarakat cenderung mengalihkan kebutuhan protein hewani dari hewan lain seperti ayam dan sapi.

Menurut Dirjen PDSPKP Kementrian Kelautan dan Perikanan Ir Artati Widiarti, MA, pemerintah telah mencanangkan gerakan memasyarakatkan makan ikan untuk mendukung percepatan penurunan stunting sebesar 14% di tahun 2024. Oleh karenanya gemarikan memiliki posisi strategis dalam menjawab masalah pangan, kesehatan dan kecerdasan. Oleh karenanya, saat ini sedang diupayakan perbaikan dari hulu hingga ke hilir agar masyarakat lebih mudah mendapatkan akses ikan baik dari segi harga, ketersediaan serta variasi produk ikannya.

Untuk pemenuhan kebutuhan gizi anak dengan ikan sendiri, ada baiknya guna menarik minat balita pada ikan, ikan yang disajikan memiliki cita rasa yang renyah dan tidak fishy, serta memiliki bentuk, kenampakan dan ukuran potongan yang menarik.

foodbank of indonesia pangan untuk harapan

Foodbank of Indonesia sendiri telah bekerjasama dengan berbagai stakeholder di Indonesia untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemenuhan gizi bagi balita di Indonesia dengan menggandeng ibu-ibu dalam Aksi 1000 Bunda untuk Indonesia, serta berbagai kegiatan lain seperti edukasi dengan menggandeng mitra dari akademisi, swasta dan instansi terkait untuk bersama-sama peduli terhadap kesehatan generasi muda Indonesia.

3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.