7 Jenis Geguritan Tembang Macapat Jawa

Tembang macapat atau geguritan merupakan salah satu bentuk puisi tradisional Jawa yang memiliki struktur metrik dan aturan yang ketat. Ada tujuh jenis tembang macapat, masing-masing dengan pola aturan yang berbeda. Macapat juga memiliki aturan baku dalam hal jumlah suku kata, pola irama, serta penggunaan laras (melodi atau nada) yang digunakan saat pembacaan atau penyampaian puisi.

Pengertian Macapat Menurut Para Ahli

Pengertian Tembang Macapat Tembang macapat merupakan sebuah karangan yang mempunyai ciri-ciri tertentu yang pembacaannya harus dilagukan (Padmosoekotjo, 1955: 21). Menurut Poerwadarminta (1939: 299) tembang macapat inggih menika tembang kang kaiket karangan awewaton guru gatra, guru lagu, lan guru wilangan utawi kanthi lelagon.

Sedangkan menurut Padmopuspito (Endraswara, 2010: 9) Tembang macapat merupakan tembang berasal dari kata “mocone papat papať” (membacanya empat-empat). Hal ini dapat dinalar, karena dalam melagukan macapat hamper selalu silabik (empat suku kata).

Sejarah Tembang Macapat

Sejarah tembang macapat bermula dari masa keemasan sastra Jawa pada zaman Kerajaan Majapahit. Tembang macapat merupakan salah satu bentuk puisi tradisional Jawa yang memiliki struktur metrik dan ritme yang khas. Pembentukan tembang macapat diyakini berasal dari pengembangan puisi-puisi Jawa klasik yang lebih awal, seperti kakawin, pada sekitar abad ke-13 hingga ke-16 Masehi.

Selama periode tersebut, di bawah perlindungan dan dukungan kerajaan Majapahit, sastra Jawa berkembang pesat. Tembang macapat muncul sebagai salah satu bentuk puisi yang memiliki aturan baku terkait dengan jumlah suku kata, pola irama, serta penggunaan laras (melodi atau nada) yang digunakan saat pembacaan atau penyampaian puisi.

jenis geguritan tembang macapat

Puisi-puisi dalam bentuk macapat diwariskan secara lisan dan kemudian ditulis secara tertulis, menjadikan bentuk ini sebagai bagian penting dari tradisi sastra Jawa. Saat ini, tembang macapat masih dilestarikan dan dihargai sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya Jawa.

Seiring berjalannya waktu, penggunaan tembang macapat tidak hanya terbatas pada kegiatan kesusastraan, tetapi juga digunakan dalam upacara adat, pertunjukan seni, dan sebagai bagian dari tradisi lisan yang turun-temurun dalam masyarakat Jawa.

Kesusastraan Jawa terus berkembang dan berubah seiring dengan perubahan sosial dan budaya. Meskipun demikian, tembang macapat tetap dianggap sebagai bagian yang tak terpisahkan dari warisan sastra dan budaya Jawa yang kaya dan berharga.

Tokoh Penting dalam Sejarah Geguritan

Beberapa pujangga atau penyair terkenal yang menciptakan geguritan macapat yang dihormati dalam sejarah sastra Jawa antara lain:

  1. Mpu Sedah Salah satu pujangga terkenal dalam sastra Jawa Kuno yang menciptakan macapat dan geguritan dengan kualitas yang sangat dihargai. Karyanya terutama dikenal dalam konteks puisi dan sastra Jawa Kuno.
  2. Sunan Kalijaga Selain dikenal sebagai salah satu dari Wali Songo, Sunan Kalijaga juga dikenal sebagai pujangga yang menghasilkan banyak karya sastra Jawa, termasuk geguritan macapat, yang memuat ajaran-ajaran keagamaan dan moral.
  3. Rangga Warsita Pujangga terkenal lainnya yang dianggap sebagai salah satu tokoh sastra dan kesusastraan Jawa yang penting. Karyanya juga termasuk dalam jenis geguritan macapat yang memuat nilai-nilai budaya dan ajaran moral.

Guru Gatra, Guru Lagu dan Guru Wilangan

Dalam konteks tembang macapat atau puisi tradisional Jawa, terdapat tiga istilah yang berkaitan dengan pengajaran atau pembelajaran metrik dan struktur dari tembang macapat. Istilah-istilah tersebut adalah guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan. Berikut adalah penjelasan singkat mengenai ketiga istilah tersebut:

  1. Guru Gatra: Guru gatra merupakan orang yang bertanggung jawab dalam mengajarkan jumlah suku kata yang tepat dalam setiap baris atau larik dalam suatu bait tembang macapat. Mereka mengajarkan aturan tentang panjangnya baris atau larik dalam hal jumlah suku kata yang harus dipatuhi dalam setiap jenis tembang macapat.
  2. Guru Lagu: Guru lagu memiliki peran dalam mengajarkan pola irama atau melodi yang tepat saat membacakan atau menyanyikan tembang macapat. Mereka mengajarkan bagaimana membaca atau menyampaikan puisi dengan intonasi yang benar sesuai dengan laras atau melodi yang ditentukan.
  3. Guru Wilangan: Guru wilangan bertugas mengajarkan pola akhiran suku kata dalam suatu bait tembang macapat. Mereka mengajar bagaimana menentukan pola akhiran suku kata yang tepat untuk setiap baris dalam bait, sesuai dengan aturan atau pola yang berlaku dalam jenis tembang macapat tertentu.

Ketiga guru ini memegang peran penting dalam memastikan bahwa aturan metrik, pola irama, dan struktur dari tembang macapat dipahami dan dikuasai dengan baik oleh para penampil atau pembaca tembang macapat. Melalui bimbingan dan pengajaran dari ketiga jenis guru ini, pelaku seni atau penyampai puisi dapat memahami, menjaga, dan mempertahankan keaslian serta kualitas dari tembang macapat yang mereka sampaikan.

7 Jenis Tembang Macapat

Ada tujuh jenis geguritan/ tembang macapat, masing-masing dengan pola aturan yang berbeda. Berikut adalah jenis-jenis tembang macapat beserta aturannya:

Macapat Pangkur

Biasanya digunakan untuk menyampaikan cerita atau kisah yang panjang. Pangkur sering kali mengandung nilai-nilai moral atau pesan yang mendalam.

    • Terdiri dari 4 baris pada setiap bait.
    • Setiap baris terdiri dari 8 suku kata.
    • Pola akhiran suku kata dalam bait adalah -a -a -a -a.

Contoh: Pangkur kinanthi kinanti, kawula ing pujaning laku, sekar arum pangrasaning ati, uwong tanpa rasa sare.

Macapat Sinom

Digunakan untuk mengungkapkan nasihat atau ajaran moral. Sinom sering kali dipakai untuk menyampaikan nasihat kepada generasi muda atau sebagai panduan hidup.

    • Terdiri dari 4 baris pada setiap bait.
    • Setiap baris terdiri dari 8 suku kata.
    • Pola akhiran suku kata dalam bait adalah -a -a -a -a.

Contoh:

Sinom panggonane kang catur,

urip sejati arsa wanda,

nrima karsa karsaning Gusti,

tegese dhewe-dhewe sajati.

Macapat Gambuh

Dikenal karena irama yang kompleks dan mampu menyampaikan cerita atau kisah yang berbeda dari yang lain. Gambuh sering dipakai untuk menceritakan legenda atau cerita-cerita klasik yang memukau.

    • Terdiri dari 4 baris pada setiap bait.
    • Setiap baris terdiri dari 9 suku kata.
    • Pola akhiran suku kata dalam bait adalah -a -a -a -a.

Contoh:

Gambuh pangalembono,

jumenenging sasmitaning pranata,

amung kekagumaning kawula,

marang rasa kang tanpa rupa.

Macapat Pocung

Digunakan untuk menyampaikan ide atau gagasan dengan cara yang lebih ringkas namun tetap padat dan maknawi.

    • Terdiri dari 4 baris pada setiap bait.
    • Setiap baris terdiri dari 8 suku kata.
    • Pola akhiran suku kata dalam bait adalah -a -a -a -a.

Contoh:

Pocung dhenggolo rongin,

ing majeng ana kuwi lamun,

nyata marang ati kawula,

tetep tegese sajroning ati.

Macapat Durma

Biasanya digunakan untuk menyampaikan pesan cinta, keindahan alam, atau kehidupan sehari-hari dengan nuansa yang lebih emosional.

Mengandung pesan kearifan lokal atau nasihat dalam bentuk yang sederhana dan lugas.

    • Terdiri dari 4 baris pada setiap bait.
    • Setiap baris terdiri dari 7 suku kata.
    • Pola akhiran suku kata dalam bait adalah -a -a -a -a.

Contoh:

Durma rakyat jinurat,

pada tan kang katunggal,

kahanane Gusti kang agung,

jagad iki tanpa runtut.

Macapat Maskumambang

Merupakan bentuk tembang macapat yang kompleks dalam strukturnya. Biasanya dipakai untuk menyampaikan pesan-pesan filosofis atau kiasan yang dalam.

    • Terdiri dari 4 baris pada setiap bait.
    • Setiap baris terdiri dari 7 suku kata.
    • Pola akhiran suku kata dalam bait adalah -a -a -a -a.

Contoh:

Maskumambang pranata rasa,

tumurun marang tyas sang wadya,

urip ing sakraling rasa,

urip tanpa gawe ing gandheng.

Macapat Dhandhanggula

    • Terdiri dari 4 baris pada setiap bait.
    • Setiap baris terdiri dari 4, 8, 4, dan 8 suku kata.
    • Pola akhiran suku kata dalam bait adalah -a -a -a -a.

Contoh:

Dhandhanggula sekar tunggal,

anguyahing prasasti arya,

sabda Gusti kang becik,

nindakake laku karsa.

Setiap jenis tembang macapat memiliki struktur yang berbeda dalam hal jumlah suku kata per baris dan pola akhiran suku kata dalam baitnya. Hal ini menunjukkan kekayaan dan keragaman struktural dalam tradisi puisi macapat Jawa.

 

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Ingin produk/website Anda kami ulas? Silahkan klik tombol dibawah ini