Mengunyah Cangkem Buto dan Buto Galak di Waroeng Pitoelas

cangkem buto galak sego babon waroen pitoelas

Untuk orang jawa, judul artikel diatas mungkin terlihat aneh. Cangkem Buto (Cangkem butho) berarti mulut raksasa, sementara Buto Galak berarti raksasa yang galak. Bagaimana mungkin orang secungkring aku bisa enak gitu aja ngunyah Cangkem Buto, apalagi Buto Galak. Akan tetapi jika kalian beranjak sejenak ke tepian Kota Jogja, terutama menuju ke arah Shiva Plateau. Kalian dapat menemukan keduanya dalam satu piring di Waroeng Pitoelas, Berbah, Sleman.

Yep, kedua  nama itu adalah nama menu makanan yang tersedia di Waroeng Pitoelas. Usut punya usut, nama Butho Galak sendiri sudah lama dikenal oleh orang-orang sepuh di jaman dahulu. Generasi kita mengenalnya sebagai sandwich lokal dengan nama tahu isi, tahu susur (Jogja) atau tahu brontak (Banyumasan). Untuk membuatnya nampak galak, Mbak Shinta selaku ownernya memasukkan unsur pedas ke dalam racikan isi sandwichnya. Jika Buto Galak memang sudah ada sejak dulu kala, Cangkem Butho adalah kuliner yang benar benar baru. Cangkem Buto menggunakan bahan baku gembus untuk menggantikan posisi tahu dalam Buto Galak.

cangkem buto galak sego babon waroen pitoelas

Selain dua menu camilan tersebut. Waroeng Pitoelas memiliki dua menu utama yakni Sego Babon dan Sego Golong. Sego Babon (Nasi Induk Ayam) merupakan kuliner yang yang terdiri dari nasi putih, suwiran daging ayam, sayur pepaya muda, tahu semur dan telor ayam, kemudian diurapi dengan serbuk kedelai dan disiram kuah semur. Penyajian Sego Babon juga unik karena disajikan dalam pincuk daun pisang. Sementara Sego Golong adalah nasi kepal berbentuk bulat, ditemani mie bihun, sayur tempe dan sayur kentang dan telor dadar segitiga.


Searah jarum jam. Lotis, Sego Babon, Butho Galak dan Cangkem Butho, terakhir Sego Golong

Makna nama Waroeng Pitoelas itu sendiri dari kata pitulas ~ pitu welas atau tujuh belas, Pitu yakni pitulungan, dan welas yakni kawelasan. Dengan harapan Waroeng ini akan senantiasa mendapat pitulungan (pertolongan) dan kawelasan (kemurahan) dari Tuhan Yang Maha Esa. Untuk memudahkan pengunjung mengenal nama Pitoelas sendiri, harga menu yang ditawarkan adalah 17 ribu rupiah untuk paket Sego Golong / Sego Babon + Free Lotis dan secangkir teh. Untuk penikmat camilan juga bisa memesan Nugget Tela dan Tela Kasur lho.

Oh ya, untuk menuju ke Waroeng Pitoelas ini, dari arah Kota Jogja bisa menuju ke arah Prambanan. Selepas Bandara cari pom bensin Tirtomartani sebelah kiri jalan, lurus sedikit ada pertigaan ke kanan menuju arah Lava Bantal. Masuk kira-kira 2 km, sebelum pertigaan pohon beringin ada jalan tepat di depan Gapura Kebun UGM, masuk. Suasana yang asri dan tenang, dengan hamparan sawah dan Gunung Merapi di kejauhan. Pengunjung juga bisa melihat bangunan yang terletak di sebelah barat situs Ratu Boko dari tempat ini.

komunitas blogger jogja dan kompasiana jogja di waroeng pitoelas

Info lanjut bisa ke IG Waroeng Pitoelas

buto buto galak, cangkem buto, rumah makan buto galak

4 thoughts on “Mengunyah Cangkem Buto dan Buto Galak di Waroeng Pitoelas

  1. sekarang lagi musim bikin nama menu makanan yanga neh dan unik ya, tp yang penting sih rasa ya, jangan sampai namanya aneh rasanya juga aneh

Berikan tanggapan anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.