Love Letter

Dear lovely,

Sekedar ingin menengok peraduanmu, malam ini hening diluar sana, sehening kedamaian nafas dalam lelap tidurmu. Kuharap aku tak mengganggu nyanyianmu di alam mimpi.

Maafkan jika rindu yang kulukiskan tak pernah nampak saat kau terjaga, tidak, tidak.. bukan waktu yang tepat untukku dan untukmu, pun sebenarnya aku berharap bisa menemani hari harimu, menggenggam tanganmu erat dan menatap sinar matamu lekat – lekat, seperti yang selalu kau tunggu.

090824-fenghuang-hunan-china-candle-boat-river-girl-launch-good-luck-night-travel-photography-IMG-23 Love Letter  wallpaperAku sadari harimu tak begitu indah akhir akhir ini, seolah sepi dari kasih dan sayang yang dulu selalu berlimpah. Masih banyak lilitan yang harus kuuraikan satu per satu sebelum itu. Aku hanya tak ingin membebanimu dengan sesuatu yang tak seharusnya ada. Biarkan semua mengalir dulu dengan jernih, hingga tak ada duri yang akan melukai kakimu.

Sementara ini biarlah aku mencintaimu dengan caraku, bukan sesuai harapmu. Abaikanlah hadirku hingga kuselesaikan untaian kata dan mutiara ini, dan ketika saatnya nanti akan kupersembahkan hanya untukmu.

Kutitipkan hati dan rindu ini padamu, tak perlu menitipkan risau pada bidak bidak kecemasan di penghujung harimu, sabarlah menanti dan kita kan menari kembali bersama pelangi dan mentari pagi.

BACA JUGA:   Ajari aku

anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

21 tanggapan untuk “Love Letter

  • Januari 31, 2013 pada 2:37 am
    Permalink

    suka.. ya walaupun telat bacanya dibanding temen-temen.
    😀

    Balas
  • Januari 25, 2013 pada 7:37 am
    Permalink

    pengen tak repost trus tak forward ke….

    Balas
    • Januari 25, 2013 pada 10:10 am
      Permalink

      sumonggo sumonggo

      Balas
  • Januari 25, 2013 pada 7:37 am
    Permalink

    Keren 🙂

    Balas
  • Januari 25, 2013 pada 5:02 am
    Permalink

    “Biarlah aku mencintaimu dengan caraku…” ini yang paling aku suka dan memang begitu seharusnya. 🙂

    Balas
    • Januari 25, 2013 pada 10:13 am
      Permalink

      semoga cara mencintainya tidak membebani ia yang dicintai ya mbak riesna 🙂

      Balas
  • Januari 25, 2013 pada 3:28 am
    Permalink

    sooo romantic

    bagaimana kalau bidak-bidak kecemasan itu aku ganti dengan Benteng?
    *nyiapinpapancatuur

    Balas
  • Januari 23, 2013 pada 2:10 am
    Permalink

    romantis sekali mas kata-katanya 🙂
    langsung makjleb kena hatiku hehe

    Balas
      • Januari 24, 2013 pada 5:53 am
        Permalink

        iya kok bener.. pandai mengolah kata, aku aja yg jurusan bahasa tapi gak bisa bikin puisi hehehee

        Balas
        • Januari 24, 2013 pada 12:43 pm
          Permalink

          duh trimakasih banget mbak mei, saya hanya sedikit aja kok taunya tentang puisi 🙂

  • Januari 22, 2013 pada 6:05 pm
    Permalink

    paragraf terakhir bagus mas ^^
    “.. bidak-bidak kecemasan ..” aaaakkk~~

    Balas
  • Januari 22, 2013 pada 1:35 pm
    Permalink

    suka sekali bagian..

    “sementara ini biarlah aku mencintaimu dengan caraku, bukan sesuai harapmu”

    :”)

    Balas
  • Januari 22, 2013 pada 6:47 pm
    Permalink

    Surat cinta, biarkan aku mencintaimu dengan caraku, kutipannya bagus 😀

    Balas

Berikan tanggapan anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: