Bagaimana Perencanaan Keuangan di Masa Virus Corona

Di saat masyarakat mulai menimbun bahan pangan dan harga masker melonjak gila-gilaan, bagaimana cara kita mengatur perencanaan keuangan di masa virus corona? Virus Corona yang berawal dari Wuhan, China, telah menjadi momok masyarakat dunia sejak awal tahun ini, penyebaran yang masif serta belum ditemukannya vaksin yang bisa meredam virus bernama resmi COVID-19 ini membuat masyarakat global berada dalam kebimbangan.

Di pusat awal epidemi virus Corona sendiri memang telah terjadi penurunan tingkat penularan virus, dan hingga saat ini pun tercatat sekitar 130ribu masyarakat di 149 negara terjangkit virus ini hanya dalam kurun waktu 3-4 bulan saja. Hal ini memicu banyak negara melakukan lockdown sebagai antisipasi penyebaran virus corona di negara mereka. China, Italia, Korsel, Iran, Arab Saudi, Spanyol dan negara-negara lain menerapkan lockdown, tak hanya penyebarannya yang masif, beberapa pejabat dan tokoh pun tidak luput dari serangan Corona, aktor kenamaan Tom Hanks, pemain belakang Juventus Daniel Ruggani, Wapres dan menteri kesehatan Iran, serta di Indonesia ada Menhub Budi Karya yang dinyatakan positif terinfeksi virus Corona.

Kekhawatiran terhadap virus Corona yang sudah terjadi selama 3 bulan ini bukan hanya memukul masyarakat dari segi masalah kesehatan saja, melainkan juga dari segi ekonomi. Di China sendiri, ketakutan penularan virus membuat aktifitas perekonomian menjadi terhenti, pabrik mengurangi jam operasional bahkan menghentikan produksi, layanan jasa menghentikan aktifitasnya, penerbangan berbagai negara ditutup, sedangkan kita tahu, China merupakan salah satu kekuatan utama ekonomi dunia selain Amerika, gangguan terhadap pertumbuhan ekonomi di China memiliki efek domino untuk negara-negara lainnya, baik yang menjadikan China sebagai mitra ekspor, maupun menjadikan China sebagai mitra impor.

ABInBEv (BUD) mencatat akibat penutupan produksi, perusahaan mencatat kerugian US$ 285 juta untuk periode Januari-Februari. Kemudian pabrik perakit iPhone, Foxconn, juga mengaku pasrah jika produksi belum bisa kembali normal pada akhir Maret. Di Inggris, negeri yang jauh dari China, perusahaan penerbangan Flybe menutup usahanya karena merugi akibat merebaknya Corona, ini menambah daftar maskapai Inggris yang tutup buku setelah Thomas Cook dan Monarch pada rentang 6 bulan terakhir.

BACA JUGA:   Memilih Produk Asuransi Pertama Untuk Keluarga

Mengapa Corona memberikan dampak ekonomi terhadap negara global?

China merupakan negara tujuan ekspor terbesar Indonesia, menurut data Badan Pusat Statistik periode Januari-September 2019, Indonesia mencatatkan ekspor USD$18,55milliar atau 15,99% jumlah ekspor Indonesia. Dengan adanya virus Corona dan pabrik-pabrik China berhenti, pasokan bahan baku dari Indonesia pun terhambat, hal ini tentunya akan memukul pelaku ekonomi di Indonesia yang selama ini mensupport bahan baku ke China.

Keresahan yang sama dialami hampir di berbagai negara, sehingga tidak mengherankan jika bursa saham di berbagai belahan dunia mulai berjatuhan. Virus Corona ini bahkan memicu kepanikan pasar yang lebih besar dibanding perang dagang China vs Amerika setahun terakhir.

Krisis Corona, juga dibarengi dengan penurunan harga minyak mentah di dunia yang diakibatkan berlebihnya pasokan minyak mentah di negara-negara penghasil minyak. Sidang OPEC+ tidak memberikan hasil yang diharapkan agar menjaga harga minyak stabil, hal ini memicu resiko investasi yang lebih besar lagi. Belum lagi ekskalasi perang Suriah yang menyeret Turki dan Rusia, serta memanasnya hubungan Iran vs Amerika. Ekonomi dunia jelas sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja.

Bagaimana Perencanaan Keuangan di Masa Virus Corona ini?

perencanaan keuangan di masa virus corona

Dengan memburuknya perekonomian dunia secara keseluruhan. Maka kita perlu mempertimbangkan kembali perencanaan keuangan kita di masa yang akan datang. Mumpung lagi krisis nih, mending simpan uang saja di rumah? Ya enggak gitu juga, perencanaan keuangan tetap kita butuhkan untuk mengantisipasi hal-hal buruk yang akan terjadi di masa depan, setiap krisis ada masanya sendiri, sekarang kita menghadapi virus corona, dan mungkin di masa depan kita menghadapi krisis yang tidak terbayangkan oleh kita sebelumnya. Dan karena masa depan itu unpredictable, kita perlu mempersiapkan masa depan kita sebaik-baiknya.

Ada beberapa investasi yang bisa dipilih sebagai instrumen perencanaan keuangan di masa virus corona ini, harga saham sedang jatuh-jatuhnya dan harga emas pun merosot dengan cepat, namun ada beberapa instrumen yang masih memiliki potensi menguntungkan di masa yang akan datang, nah apa saja itu?

BACA JUGA:   Lebih Tahu Soal Investasi Reksadana Bersama DBS Bank

Instrumen Investasi yang Aman dari Sergapan Corona

1 SBR (saving bond ritel)

SBR merupakan jenis investasi yang dikeluarkan oleh pemerintah suatu negara, di Indonesia SBR dikeluarkan dalam bentuk Surat Utang Negara (SUN) dan Surat Berharga Negara) instrumen investasi ini diperuntukkan untuk warga negara Indonesia, dan investasi ini dijamin oleh negara

2 Logam Mulia

Harga emas boleh jadi jatuh saat ini, dan justru disaat semacam ini, emas menjadi instrumen yang sangat menarik untuk dibeli. Harga yang semurah ini mungkin tidak akan kita jumpai lagi tanpa ada krisis global semacam ini, setelah krisis berakhir, yakin saja harga logam mulia ini akan mengalami rebound dengan ciamik. Emas juga merupakan investasi yang sangat stabil dan memiliki tingkat kenaikan nilai yang cukup signifikan, di atas nilai inflasi

3 Sektor property

Aset property seperti rumah dan tanah bisa menjadi pilihan investasi berikutnya, harga rumah cenderung naik meski ada resiko pengurangan nilai rumah seperti kebutuhan akan perawatan dan pemugaran, namun tanah memiliki ketahanan yang sangat stabil. Apalagi jika di masa depan, kawasan dekat aset tanah tersebut berkembang. Tentunya bisa dijadikan instrumen investasi yang cukup menggiurkan.

Selain ketiga instrumen investasi tersebut, ada baiknya kita melihat portofolio investasi kita, bagaimana prospeknya kedepan, mengingat harga saham yang berguguran belum tentu akan mengalami rebound, dan justru bisa berakhir seperti Flybe, tentu harus benar-benar jeli melihat peluang saham yang masih dapat melakukan return ke nilai yang lebih tinggi di masa depan.

Kalian juga bisa menggunakan alat Analisa Kebutuhan Finansial yang ada di Wealth Management HSBC untuk mengatur ulang dan mengetahui perencanaan kebutuhan finansial kalian di masa yang akan datang, selain itu kalian juga bisa berkonsultasi dengan Strategic Financial Planner yang sudah berpengalaman. Jadi jangan ragu untuk mengatur perencanaan keuangan di masa virus Corona.

 

Berikan tanggapan anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.